
Foto Khusus
Jakarta, 30/1 – Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat logistik utama di Asia Tenggara, memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Malaka. Dengan selesainya pembangunan Terusan Kra di Thailand, perubahan signifikan dalam jalur perdagangan maritim global akan terjadi. Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla., menekankan urgensi bagi Indonesia untuk mengambil langkah proaktif guna menghindari dominasi Singapura dan Malaysia, dan merebut peluang ini.
Salah satu strategi kunci yang diusulkan adalah pengembangan dan pengoperasian dua hub port utama: Pelabuhan Malahayati di Aceh sebagai Hub Port Barat dan Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat sebagai Hub Port Timur. Langkah ini diproyeksikan mampu menguasai alur kargo di Selat Malaka, mengurangi ketergantungan pada Singapura dan Malaysia, serta menghasilkan penghematan biaya logistik nasional hingga Rp 4 triliun per tahun.
Pelabuhan Malahayati: Pintu Gerbang Logistik di Barat Indonesia
Pelabuhan Malahayati di Aceh memiliki posisi strategis untuk menerima kargo dari Asia Barat dan Eropa sebelum mencapai Singapura. Dengan menjadikannya Hub Port Barat, kapal-kapal besar dapat menurunkan muatan di Aceh sebelum melanjutkan perjalanan ke Terusan Kra dan Tiongkok. Keuntungan strategisnya meliputi: penekanan penyelundupan di Pantai Timur Sumatera, penguasaan distribusi barang ke Malaysia, dan peningkatan jalur transportasi multi-moda (laut dan darat).
Pelabuhan Kijing: Pusat Logistik di Timur Indonesia
Di sisi timur, Pelabuhan Kijing di Kalimantan Barat akan menjadi titik utama untuk kargo dari Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, Tiongkok) dan Amerika Serikat. Kargo yang ditujukan ke Indonesia, termasuk untuk Malaysia dan Singapura, dapat ditangani di sini, memberikan Indonesia kendali atas distribusinya. Keuntungannya mencakup: pengurangan ketergantungan pada Pelabuhan Singapura, penegakan asas Cabotage, penghematan biaya logistik (dengan volume 7 juta TEUs per tahun), dan peningkatan efisiensi perdagangan dalam negeri.
Visi Indonesia sebagai Pusat Logistik Global
Laksma (Purn) Jaya Darmawan menggarisbawahi pentingnya Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai logistik global, bukan hanya sebagai pelabuhan transit. Pengembangan Hub Port Malahayati dan Kijing merupakan implementasi nyata dari visi tersebut. Dengan menguasai jalur kargo di Selat Malaka, Indonesia dapat menarik pusat perdagangan global, mengubah peta ekonomi kawasan, dan mengakhiri dominasi negara tetangga. Potensi dampak positifnya termasuk perpindahan kantor dagang dari Singapura ke Aceh dan Pontianak, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia yang signifikan. (Jal)